Tulisan ini dibuat berdasarkan fakta yang ada dilapangan dan merupakan pengalaman pribadi penulis dalam menghadapi siswa yang mengalami masa pergolakan. Anak-anak usia peralihan dari remaja menuju ke dewasa mengalami gejolak dalam perkembangan sosial emosionalnya. Pada observasi yang dilakukan banyak anak tidak mampu mengelola emosi yang memuncak pada dirinya dan menyalurkannya ke hal-hal yang negatif. Pada satu kasus didapati anak yang tidak peduli terhadap masa depan hidupnya, lalu didapati anak yang kecewa dengan keluarganya, didapati anak yang merasa orang tuanya tidak menyayanginya (pilih kasih dengan adik-adiknya), ada juga anak yang terlalu dimanja, ada anak yang labil, dan ada juga anak yang bawaannya mau marah saja.
Berdasarkan temuan tersebut penulis bermaksud untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional anak dengan penerapan pendekatan cerita. Penulis meyakini melalui metode ini anak-anak akan mengalami perubahan karakter ke arah yang positif. Perkembangan sosial emosional adalah salah satu perkembangan yang harus ditangani secara khusus, karena perkembangan sosial emosional anak harus dipantau dan diberi perhatian khusus pada masa usia remaja menuju dewasa. Masa ini disebut masa pergolakan serta pencarian jati diri. Disinilah peranan seorang guru dan juga orang tua sangat dibutuhkan. Seorang guru hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional dari si anak. Orang tua memiliki peranan untuk menjadi teman cerita anak di rumah. Orang tua tidak perlu segan atau merasa canggung untuk memanjakan dan bermain kepada anak. Manjaan dan perhatian sangat dibutuhkan bagi anak yang mengalami masa peralihan dan pencarian jati diri. Berdasarkan hal tersebut metode ini dilakukan karena setiap anak yang berusia remaja menuju dewasa membutuhkan kawan untuk tempat dia bercerita dan mengungkapkan isi hatinya.
Setiap fase usia memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari fase-fase pertumbuhan yang lain. Demikian pula dengan fase remaja, memiliki ciri-ciri yang berbeda dan karakteristik yang berbeda pula dari fase kanak-kanak, dewasa dan tua. Selain itu, setiap fase memiliki kondisi-kondisi dan tuntutan-tuntutan yang khas bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, kemampuan individu untuk bersikap dan bertindak dalam menghadapi satu keadaan berbeda dari fase satu ke fase yang lain. Hal ini tampak jelas ketika mengekspresikan emosi emosinya. Seperti bagaimana melepaskan stress dengan cara yang sesuai, mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata ketimbang tindakan negatif, mengatasi situasi sulit atau berbahaya dengan tenang, mengatasi situasi yang sedih dengan cara yang tepat, menangani situasi mengejutkan dengan kontrol menunjukkan kesukaan, kasih sayang, cinta terhadap orang lain dan lain sebagianya. Pertumbuhan terjadi serentak dengan perkembangan fisik, sosial, kognitif, bahasa, dan kreatif. Namun, respon yang terjadi dari setiap fase perkembangan mengalami perubahan pada anak sejalan dengan berlangsungnya waktu karena kedewasaannya, lingkungan, reaksi orang lain disekitar atau pembimbingan dari orangtua.
| pendekatan sosial-emosional |
Pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional. Remaja suka memberontak dan idealis kadang-kadang ketegangan-ketegangan sering terjadi dengan menantang orang tua, guru dan orang-orang yang ada di sekitar mereka, dengan gagasan-gagasannya yang kadang berbahaya dan kaku. Persoalan-persoalan lain remaja yang membuat kita prihatin yang terjadi dalam rutinitas sehari-hari adalah tidur larut malam, tidak betah tingal di rumah, mencuri, berbohong, merokok, bersumpah dengan bahasa yang tidak jelas, mengucapkan kata-kata yang cenderung vulgar, tidak patuh dan suka membantah, selalu menolak apabila diperintahkan, suka berdebat, membolos dari sekolah, mendengarkan musik dengan keras, tidak membersihkan tubuhnya dengan benar, bermalas-malasan dengan tidak melakukan sesuatu (menganggur), memakai pakaian yang tidak rapi atau membuat model atau potongan rambut yang sembarangan, melakukan sesuatu dengan tanpa pertimbangan yang matang serta dengan resiko yang konyol, bergaul dengan orang-orang yang tidak kita sukai karena tidak jelas orientasi hidupnya, melalaikan pelajaran agamanya atau tidak memperhatikan ibadahnya seperti tidak sholat atau sholat tidak tepat waktu, pencabulan, tawuran, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Orang tua dari remaja nakal atau bermasalah cenderung memiliki aspirasi yang minim mengenai anak-anaknya, menghindari keterlibatan keluarga dan kurangnya bimbingan orang tua terhadap remaja. Sebaliknya, suasana keluarga yang menimbulkan rasa aman dan menyenangkan akan menumbuhkan kepribadian yang wajar dan begitu pula sebaliknya. Banyak penelitian yang dilakukan para ahli menemukan bahwa remaja yang berasal dari keluarga yang penuh perhatian, hangat, dan harmonis mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri dan sosialisasi yang baik dengan lingkungan.
Maka dari itu pendidikan karakter atau sosial emosional sangatlah relevan untuk menjawab tantangan ini. Sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang mengajarkan kepada kita tentang sistem among. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan ialah pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Inilah yang kita namakan among method (KHD, Rapat Pendirian Tamansiswa 1922). Metode among ini sangat relevan dengan metode cerita untuk menghadirkan kehangatan antara anak dengan guru maupun antara anak dengan orang tuanya. Melalui metode cerita ini, kita juga dapat mengenalkan pembelajaran sosial emosional kepada anak.
Pembelajaran Sosial emosional adalah proses pembelajaran di mana belajar untuk mengelola emosi, peduli dengan sesamanya, mengenali emosi, membuat keputusan yang baik, berperilaku yang baik dan bertanggung jawab, mengembangkan perilaku yang positif, serta menghindari perilaku yang negatif. Pendidikan sosial dan emosional ini juga berfungsi untuk mengajarkan pada anak untuk menjadi pribadi atau individu yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar terhadap sosial disekitarnya, juga diharapkan anak mampu membuat keputusan yang kompeten dan bertanggung jawab. Proses pembelajaran anak dipengaruhi oleh aspek perkembangan emosi dan sosial. Karena pada proses pembelajaran ini, tidak hanya di pengaruhi oleh kemampuan kognitif saja.
Baca Juga : Permainan Tradisional adalah Pendidikan
Pembelajaran sosial dan emosi juga sangat berpengaruh pada orang lain, lingkungan, bahkan dirinya sendiri. Pengembangan aspek ini didapat dari pembelajaran sosial emosional yang dimana itu adalah proses untuk mengembangkan sikap, nilai-nilai dan keterampilan yang diperlukan sebagai modal untuk anak dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sebagai awal dari penanaman pendidikan karakter pada anak.
Ada lima kunci pengembangan dalam aspek sosial emosional anak yaitu :
1. Self-awareness
Yaitu kemampuan untuk mengenali secara tepat emosi dan pikiran seseorang dan pengaruhnya terhadap perilakunya. Termasuk tepat dalam menilai kekuatan atau keterbatasan seseorang yang berbeda-beda, serta memiliki rasa kepercayaan diri dan optimisme.
2. Self-management
Yaitu kemampuan untuk mengatur emosi orang lain, pikiran orang lain, dan perilaku efektif dalam situasi yang berbeda. Termasuk mengelola stres, memotivasi dirinya sendiri.
3. Social awareness
Yaitu kemampuan untuk memahami etika untuk berlaku yang semestinya. mengambil perspektif dan berempati terhadap orang lain dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda, untuk memahami norma-norma sosial, juga untuk mengenali keluarga, lingkungan, masyarakat, sekolah, dan sumber daya masyarakat.
4. Responsible decision making
Yaitu kemampuan untuk membuat atau mengambil keputusan secara konstruktif serta interaksi sosial yang didasarkan pertimbangan standar masalah keamanan, norma-norma sosial, dan konsekuensi nyata dari berbagai tindakan yang telah dilakukan.
5. Relationship skills
Yaitu kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang bermanfaat secara berkelompok atau dengan individu yang beragam. Termasuk cara untuk berkomunikasi secara jelas, mendengarkan dengan aktif, bekerja sama, dan mencari dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
Kelima kompetensi ini sangat penting dikembangkan sejak anak berusia dini untuk menanamkan keterampilan sosial. Karena dengan dikembangkannya kelima aspek sosial emosional didalam diri anak akan tertanam sifat-sifat baik/ karakter unggul pada diri anak dalam dunia sosial dan dimasa depan nya. Mengembangkan nya juga di bantu dengan metode-metode seperti bercerita, bermain permainan edukatif, bermain peran dan sebagainya tepat digunakan untuk mengembangkan kelima keterampilan tersebut.
Demikianlah koneksi dan korelasi antara pendekatan cerita dengan pembelajaran sosial emosional. Kesemuannya itu untuk mencegah anak-anak yang mengalami masa pencarian jati diri agar tidak salah dalam menyalurkan gejolak emosinya ke arah yang tidak baik. Adapun manfaat pendekatan cerita dan yang sudah juga saya lakukan membuktikan hasil yang sangat positif dan membentuk karakter anak yang baik, diantaranya : menanamkan nilai-nilai positif pada anak, memberikan sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral dan keagamaan, membuka wawasan dan pengalaman baru bagi si anak, menciptakan suasana yang akrab, mengembangkan perasaan sosial dan emosi anak, anak menjadi percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan dan anak akan merasa nyaman dilingkungan terdekatnya.
| pembelajaran di luar kelas |
| senang dan gembira bersama mereka |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar