Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL POPULER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL POPULER. Tampilkan semua postingan

Menghadirkan Pembelajaran yang Nyata dengan Metode Outentic Learning melalui Fitur-Fitur yang ada di Portal Rumah Belajar

Pendidik maupun peneliti di bidang pendidikan telah mengakui pentingnya otentisitas dalam kegiatan pembelajaran di berbagai jenjang dan konteks pendidikan. Menurut definisi, “belajar otentik”  berarti pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata dan proyek-proyek dan yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi dan membahas masalah-masalah ini dengan cara yang relevan untuk mereka.

Pembelajaran otentik (outhentic learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggali, mendiskusikan, dan membangun secara bermakna konsep-konsep dan hubungan-hubungan, yang melibatkan masalah nyata dan proyek yang relevan dengan siswa (Donovan, Bransford & Pallegrino, 1999). Istilah ‘otentik’ berarti asli, sejati, dan nyata (Webster’s Revised Unabridged Dictionary, 1998). Pembelajaran ini dapat digunakan untuk siswa pada semua tingkatan kelas, maupun siswa dengan berbagai macam tingkat kemampuan.

Belajar otentik merupakan pendekatan pedagogis yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi, berdiskusi, dan penuh arti membentuk konsep dan hubungan dalam konteks yang melibatkan dunia nyata masalah dan proyek-proyek yang relevan dengan peserta didik (Donovan, Bransford, & Pellegrino, 1999). Istilah yang otentik didefinisikan sebagai asli, benar, dan nyata (Webster’s Revisi lengkap Dictionary , 1998).

Pembelajaran yang terintegrasi Rumah Belajar

Baca Juga : Relevansi pandangan David Cooperrider dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Inkuiri Apresiatif dalam Pengelolaan Sumber Daya

Untuk kegiatan belajar mengajar di kelas, Saya cenderung menggunakan metode pembelajaran yang nyata guna menstimulus anak untuk berfikir dan mendapatkan gambaran real akan materi yang disampaikan. Metode ini membuat anak tidak ambigu dalam memahami apa materi yang diberikan. Sebagai contoh ketika Saya memberikan materi tentang pelaku ekomoni dan perannya, maka anak-anak akan bertanya-tanya seperti apa mereka dan kerja nya melakukan apa?. Dalam hal ini metode pembelajaran nyata (Outentic Learning) menjawab tantangan dan memberikan solusinya. Saya mengintegrasikan materi yang dibawakan dengan portal rumah belajar yang didalam nya menyediakan fitur sumber belajar yang mudah diakses dan dibagikan ke anak-anak. Anak-anak menjadi senang dan menarik perhatian mereka serta memunculkan motivasi intrinsik pada diri anak untuk cinta terhadap belajar. Kekuatan sebenarnya dari pembelajaran otentik adalah kemampuan untuk secara aktif melibatkan siswa dan menyentuh motivasi intrinsik mereka (Mehlinger, 1995).

Ciri-ciri pembelajaran otentik :

•  Belajar berpusat pada tugas-tugas otentik yang menggugah rasa ingin tahu siswa. Tugas otentik berupa pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan siswa.

•  Siswa terlibat dalam kegiatan menggali dan menyelidiki.

•  Belajar bersifat interdisipliner.

•  Belajar terkait erat dengan dunia di luar dinding ruang kelas.

•  Siswa mengerjakan tugas rumit yang melibatkan kecakapan berpikir tingkat tinggi, seperti  menganalisis, mensintesis, merancang, mengolah dan mengevaluasi informasi.

•  Siswa menghasilkan produk yang dapat dibagikan kepada audiens di luar kelas.

•  Belajar bersifat aktif dan digerakkan oleh siswa sendiri, sedangkan guru, orangtua, dan narasumber bersifat membantu atau mengarahkan;

•  Guru menerapkan pemberian topangan (scaffolding), yaitu memberikan bantuan seperlunya saja dan membiarkan siswa bekerja secara bebas manakala mereka sanggup melakukannya sendiri.

•  Siswa berkesempatan untuk terlibat dalam wacana dalam masyarakat.

•  Siswa bekerja dengan banyak sumber.

•  Siswa seringkali bekerja bersama dan mempunyai kesempatan luas untuk berdiskusi dalam   rangka memecahkan masalah.

Lucas, Spencer, Claxton (2012: 61) menjelaskan secara lebih rinci prinsip pen-didikan otentik yang mencakup: belajar dengan melihat; belajar dengan meniru; belajar melalui praktik (‘trial and error’); belajar melalui masukan (feedback); belajar melalui percakapan; belajar melalui mengajar dan membantu siswa lain belajar; belajar melalui problem-based activity; belajar melalui proses bertanya (inquiry); belajar melalui berpikir kritis dan menghasilkan pengetahuan; belajar melalui proses mendengarkan, mentraskripsi, dan mengingat; belajar melalui membuat sketsa; belajar melalui proses refleksi; belajar dengan cara meminta bantuan atau pen-jelasan pada orang lain untuk menjawab rasa ingin tahu yang mereka miliki (learning on the fly); belajar melalui pembinaan; belajar dengan cara berkompetisi; belajar dari lingkungan virtual; belajar melalui simulasi dan permainan peran; belajar melalui permainan.

Ekspresi anak yang senang dengan pembelajaran ontentik


Reeves, Herrington, dan Oliver (2002) mengkaji 10 elemen utama pembelajaran otentik, yang meliputi:

1. Relevansi dengan dunia nyata. Sedapat mungkin, pembelajaran otentik harus disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari dan dalam lingkungan profesional dimana mereka akan menerapkan ilmu yang diperoleh. Melalui pembelajaran otentik, siswa difasilitasi untuk belajar konsep, fakta, serta konteks keilmuan dan sosial dari bidang yang mereka pelajari.

2. Pendekatan multi-interpretasi. Siswa dilatih untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak dapat dipecahkan dengan rumus tertentu, melainkan melalui interpretasi personal mereka. Melalui cara ini, siswa akan belajar mengidentifikasi cara-cara yang dapat mereka aplikasikan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

3. Investigasi yang berkelanjutan. Dalam pembelajaran otentik, tugas yang diberikan kepada siswa cenderung kompleks sehingga alokasi waktu dan bahan pembelajaran yang dibutuhkan siswa harus diper-siapkan dengan baik.

4. Bahan pembelajaran dan cara pandang yang variatif. Dalam mempelajari dan menganalisa berbagai sumber belajar yang mereka guna-kan, siswa akan belajar memilah informasi yang relevan dan irelevan dengan tugas yang mereka kerjakan. Karena guru tidak menetapkan satu referensi khusus dan siswa berhak memilih beberapa referensi sesuai dengan definisi kebutuhan mereka, siswa akan belajar mengenai berbagai cara pandang terhadap suatu teori atau cara penyelesaian masalah.

5. Kolaborasi. Kerja sama antar siswa merupakan elemen penting dalam pembelajaran otentik.

6. Refleksi pembelajaran. Siswa diharapkan untuk dapat melakukan refleksi terhadap pembelajaran secara pribadi maupun berkelompok.

7. Cara pandang multidisipliner. Tidak hanya mengacu pada satu bidang ilmu, pembelajaran otentik dapat dikaitkan dengan bidang ilmu lain. Untuk itu, siswa perlu dibimbing untuk berpikir secara multidisipliner.

8. Penilaian yang terintegrasi.

9. Pembelajaran berorientasi produk. Dalam pembelajaran otentik, siswa tidak hanya diharapkan untuk dapat menyimpulkan materi yang telah mereka pelajari tetapi juga menghasilkan produk yang relevan dengan materi tersebut.

10. Pembelajaran menghasilkan multiinterpretasi dan multi capaian. Dalam mengkaji suatu masalah atau menyelesaikan suatu kegiatan, siswa dibimbing untuk memberikan respon yang objektif melalui jawaban yang bersifat terbuka.

Pembelajaran otentik ini sangat baik diterapkan kepada siswa dan akan membuat siswa senang serta asik dalam pembelajaran. Manfaatkan sebaik mungkin portal rumah belajar yang disediakan secara gratis oleh pemerintah dan berikan pemahaman pembelajaran kepada siswa secara real. Jangan takut untuk menciptakan kelas yang menyenangkan untuk siswa. Belajar otentik merupakan pendekatan pedagogis yang memungkinkan  siswa untuk mengeksplorasi, berdiskusi, dan penuh arti membentuk konsep dan hubungan dalam konteks yang melibatkan dunia nyata masalah dan proyek-proyek yang relevan dengan peserta didik.


Referensi Artikel

Sumber : Sistem Pendidikan Vokasi di Inggris Oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London 2018

http://eksis.ditpsmk.net/artikel/pembelajaran-dan-penilaian-otentik-dalam-pendidikan-vokasi

https://www.msyarifah.my.id/metode-pembelajaran-otentik-outentic-learning/





Share:

Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Proses Belajar Mengajar yang Efektif

Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing siswa. 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu cara berpikir yang sangat penting tentang proses pembelajaran pada abad ke-21 ini. Diferensiasi adalah praktik menyesuaikan kurikulum, strategi mengajar, strategi penilaian, dan lingkungan kelas dengan kebutuhan semua siswa. Kelas yang berdiferensiasi memberikan jalur yang berbeda bagi siswa untuk mendapatkan isi, untuk memproses informasi dan ide-ide, serta untuk mengembangkan produk/hasil belajar yang menunjukkan sejauh mana pemahaman yang diperoleh siswa. Praktik pembelajaran selama ini kurang mengakomodir perbedaan yang dimiliki oleh peserta didik. Padahal, secara alamiah setiap individu adalah khas (unik). Setiap individu memiliki kekhasan sendiri. Oleh karena itu, sudah seyogyanya pendidik memfasilitasi perbedaan-perbedaan individu (peserta didik) tersebut dalam pembelajaran. Berbagai macam perbedaan dimiliki oleh peserta didik di sekolah, di antaranya: jenis kelamin, budaya, tingkat kognitif, kemampuan, inteligensi, gaya belajar, bahasa, dan minat. Dengan menyadari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, Dewey (1983) menggagas pendekatan yang disebut pembelajaran berdiferensiasi. Ada dua kerangka kerja pembelajaran berdiferensiasi yang paling popular, yaitu kerangka kerja menurut Tomlinson dan kerangka kerja menurut Dogde (Arends, 2010).

ilustrasi gambar

Baca Juga  : Dilema VS Bujukan 


Kedua kerangka kerja tersebut memiliki persamaan yaitu sama-sama memulai dari pentingnya memahami siswa. Tomlinson mendeskripsikan ada enam kerangka kerja dalam diferensiasi, yaitu:

1.  Memperhatikan kesiapan akademik siswa.

2.  Minat siswa 

3.  Gaya belajar siswa harus dijadikan acuan untuk merencanakan aktivitas belajar siswa,

4. Meminta para guru untuk memberikan strategi jamak/beragam untuk mengorganisasikan dan membedakan isi (kurikulum).

5.  Proses (pembelajaran)

6. Produk (penilaian) demi mengakomodir tingkat kesiapan, perbedaan minat, dan perbedaan gaya belajar siswa.

Untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif di kelas diferensiasi, beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :

1.  Merencanakan kelas berdirensiasi Dalam merencanakan kelas berdiferensiasi, ada tiga aspek yang sangat penting, yakni: 

a.   Mengklarifikasi materi, 

b.   Mendiagnosa kesiapan siswa, dan 

c.   Mendesain pengalaman belajar yang bervariasi.

2.  Mengatur kelas berdiferensiasi. Beberapa ahli merekomendasikan para guru agar mengembangkan ‘template’ untuk mengatur tugas siswa.

3. Penilaian dalam kelas berdiferensiasi. Penilaian dalam kelas berdiferensiasi bersifat tanpa henti dan merupakan bagian yang terpadu dengan pembelajaran. Langkah awal penilaian adalah mengumpulkan informasi diagnostik untuk mengembangkan profil belajar siswa dan untuk mengetahui apa saja yang diketahui oleh siswa serta apa saja yang dapat dilakukan oleh siswa terhadap materi tertentu.

4.  Peran guru dan siswa. Guru menjadi fasilitator dan pelatih, sedangkan siswa menjadi peserta yang aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Siswa membuat pilihan berdasarkan minat dan pilihan belajar mereka, belajar sendiri, saling menjadi tutor sebaya, dan bekerja dalam kelompok kecil.

5. Lingkungan belajar. Lingkungan kelas berdiferensiasi memiliki banyak sekali jenis aktivitas belajar dan ragam situasi pengelompokan.

Guru hendaknya menerapkan strategi yang baik tepat dalam mengelola kelas berdiferensiasi. Beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi, yaitu 

1.  Mengembangkan profil siswa,

2.  Memberikan materi dengan format bervariasi dan tingkat kesulitan berbeda, 

3.  Melihat proses kognitif yang merbeda, 

4.  Memberikan pilihan dalam kegiatan belajar dan penialaian, 

5.  Pembentukan kelompok kecil dan melakukan pengelompokkan yang fleksibel, 

6.  Menggunakan kontrak belajar, 

7.  Melakukan pemadatan kurikulum, 

8.  Menggunakan tutor sebaya, mentor, dan ahli, 

9.  Melihat kecerdasan jamak,

10. Mempertimbangkan gaya belajar dan pilihan siswa, 

11. Melakukan eksplorasi ‘cubing’, 

12. Mengatur kelas berpusat pada minat belajar,

13. Menggunakan strategi pembelajaran berkelompok dan pembelajaran berbasis masalah, dan 

14. Merancang tugas-tugas berjenjang.

Ada tiga tantangan yang dihadapi guru ketika mereka berjuang untuk mewujudkan kelas berdiferensiasi, yaitu

1.  Menjembatani dilema diferensiasi versus standarisasi,

2.  Mengatur waktu, dan

3. Mengakses sumber-sumber yang bervariasi. Untuk dapat mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu diperlukan perubahan paradigma pada diri guru dalam memandang siswa, dari anggapan bahwa siswa itu seragam menuju anggapan bahwa siswa itu beragam.


Share:

Relevansi pandangan David Cooperrider dengan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Inkuiri Apresiatif dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pada setiap diri anak, selalu ada kekuatan positif dan keterbatasan. Kedua hal itu sering dipengaruhi oleh sikap dan karakter pribadi yang tumbuh dan berkembang karena lingkungan dan pendidikan. Sementara itu, anak telah memiliki kodrat fisik seperti yang sekarang anak punyai. Begitu juga, anak telah dianugerahi kemampuan, bakat-bakat, sifat dan sebagainya. Segala kemampuan, bakat, dan sifat yang anak miliki tersebut masih dapat kita kembangkan menjadi lebih optimal. Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”.

Uraian tersebut akan lebih jelas jika kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang menggangu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman padi dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat-iradatnya padi. Misalnya ia tidak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya. Memang benar, ia dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi menggantikan kodrat padi itu tetap mustahil. Demikianlah Pendidikan itu, walaupun hanya dapat “menuntun”, akan tetapi faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak sangatlah besar.

Hal itu senada dan berkaitan dengan paradigma IA. Dimana IA berfokus pada potensi dan kekuatan positif yang dimiliki anak. IA juga membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas anak serta menebalkan potensi dan bakat anak tersebut. Guru tidak bisa mengikuti kemauan nya saja dalam mengajar karena hal tersebut dapat membuat anak tertekan dan jenuh. Guru harus melibatkan anak dalam menciptakan pola belajar yang mereka inginkan dan senangi. Kita ini hidup dimasa dimana sangatlah penting untuk memiliki mata yang dapat menghargai, mata yang dapat melihat dan mengungkapkan hal yang benar, yang baik dan membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan.

Bila sekolah lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya yang ada disekolah itu dipastikan akan meningkat dan kemudian sekolah akan berkembang secara berkelanjutan. Mulai dari sekarang pahami kekuatan yang ada disekolah sebagai dasar untuk melakukan perubahan kearah yang positif. Demikian relevansi pemikiran David Cooperrider dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

ilustrasi gambar

Baca Juga    Tips Mengubah Perilaku Siswa Bandel

Tidak hanya berpusat kekuatan itu datang dari murid dan guru, kekuatan itu datang dari 7 modal utama yang harus dikelola dengan baik di sekolah kita. Adapun 7 Modal utama tersebut sebagai bagian dari Pemimpin dalam pengelolaan Sumber daya, diantaranya : Modal Manusia, Modal Fisik, Modal sosial, modal lingkungan/alam, modal financial, modal politik dan modal agama/budaya.

Kesemuaannya itu harus digerakkan secara utuh dan holistic, yang nantinya hasil dari asset tersebut akan membuat kita mengerti “Mengapa kita lebih disarankan untuk menggunakan Pendekatan Berbasis Aset dalam memajukan sekolah, ketimbang Pendekatan berbasis Masalah”.



Tidak ada hal lain yang dapat menginspirasi dan menguatkan hati orang, 

selain kata-kata apresiasi.


Share:

Tips Mengubah Perilaku Siswa Bandel

Saya adalah guru disekolah Menengah Atas (SMA) pengalaman selama kurang lebih 2 tahun lebih saya mengajar disekolah tersebut. Berbagai macam jenis tingkah laku siswa didik di yang berbeda- beda disetiap tahunnya. Awal mula saya mengajar disekolah ini saya sedikit terkejut karena ini awal pertama kali saya mengajar, saya berusaha untuk berani dan bertahan. Karena yang saya hadapi adalah anak SMA yang mayoritasnya adalah laki-laki dan perempuan. 

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah karena sudah pasti kita dituntut untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Itu lah tugas mulia seorang guru karena saat say memutuskan untuk menjadi seorang guru sudah pasti saya tau resiko yang akan saya hadapi termasuk tingkah laku anak didik yang beragam. Mulai dari siswa yang suka cabut saat jam pelajaran, datang terlambat, tidak mengerjakan tugas dan pr, ribut dikelas, berkata kasar atau kurang sopan, berpakaian kurang rapi,tidur didalam kelas.

Ini lah sifat maupun perilaku yang harus dihadapi setiap harinya. Terkadang saya merasa marah, capek bahkan sedih. Kenapa begitu ia itu semua karna setiap masuk pembelajaran saya semangat untuk memberikan materi tetapi saat tiba didalam kelas banyak kondisi yang tidak mendukung seperti saat kita memberikan catatan atau materi ada saja siswa yg ribut, bermain hp, tidur didalam kelas dan banyak lagi.

ilustrasi gambar


Baca juga : Peningkatan Afektif melalui Kartu Kendali

 Pantaskah kita untuk marah, sejujurnya saya sangat marah dan sedih karena apa saya merasa saya tidak dianggap dan dihargai  didalam kelas tersebut mereka asik dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan orang yang ada disekelilingnya.Terkadang dibalik kemarahan ini saya masih sangat bersyukur karena dari 1 kelas tersebut masih ada siswa yang niat belajarnya masih tinggi itulah harapan saya untuk kelas itu. Walaupun sebagian besar tidak ingin belajar. Tapi insyak Allah seiring berjalannya waktu mereka akan berubah dengan sendirinya. Terkadang anak yang seperti itu sering kita sebut sebagai anak yang nakal tp sebenarnya mereka seperti karena beberapa faktor yaitu Siswa yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai. Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat pelajaran. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan pada anaknya.

Siswa atau anak tersebut yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya. Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah ‘korban’ dan berusaha untuk membalas dendam.  Siswa yang mendapat tekanan dari orang tua. Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prestasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/ mengekang. Akibatnya bisa bermacam, siswa bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.

Siswa yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Siswa yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak kepada gurunya maupun kepada temannya atau bahkan melakukan kekersaan, berkata kasar atau kurang sopan seperti apa yang ia alami dirumahnya.

Siswa yang salah bergaul itu semua terjadi karena salah dalam memilih lingkungan. Lingkungan memang memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sikap siswa. Pergaulan yang kurang tepat atau menyimpang bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang pula bagi siswa tersebut.

Maka perlu dilakukan beberapa tindakan untuk mengubah perilaku maupun sifat siswa tersebut diantaranya:

1. Hindari Kekerasan dalam Mengatasi Anak Nakal

Kita sebagai guru sedapat mungkin harus menghindari kekerasan, terutama tindakan kekerasan yang bisa meninggalkan bekas luka terhadap siswa yang bersangkutan. Jika hal tersebut terjadi maka guru yang bersangkutan akan terkena pelanggaran undang-undang Perlindungan Anak. Dalam Pasal 54 Undang-undang No. 23 Tahun 2001 tentang perlindungan Anak dinyatakan bahwa: “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya didalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.

2. Lakukan Pendekatan Secara Persuasive

Salah satu cara mengatasi karakter anak seperti itu dengan cara melakukan pendekatan secara persuasive yaitu dengan cara memperhatikan atau memberikan sebuah perhatiaan khusus kepada anak yang bersangkutan.Tetapi perhatian yang di berikan mestinya tidak tampak terlampau berlebihan oleh siswa lainnya. Terkadang kenakalan / kegaduhan yang mereka lakukan sebenarnya semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian dari kita . maka ada baiknya kita bercengkrama dengan mereka barang se menit saja untuk menunjukkan perhatian kita dan mengetahui penyebab problem dari anak tersebut sehingga anak tersebut merasa diperhatikan dan kita bisa menemukan solusi dalam menangani anak tersebut.

Lalu gali penyebab kenakalnya, apa karena kurang mendapatkan perhatian di dalam keluarganya atau pengaruh lingkungan sekitar ia berada.Jika seorang guru telah tahu latar belakang mengapa anak tersebut di dalam maupun di luar kelas nakal, maka sangat membantu dalam mengatasinya kenakalan anak tersebut.

3. Ketahui Penyebab Kenakalannya

Untuk berusaha mengatasi anak nakal di sekolah, guru  haruslah memperhatikan penyebabnya terlebih dahulu. Sebagai guru yang baik, anda tidak bisa langsung memberikan hukuman pada anak tersebut, karena anak-anak umumnya merupakan satu pribadi yang masih polos dan belum mengetahui apa arti nakal sebenarnya. Anak merupakan satu manusia yang masih melakukan sesuatu atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Sehingga hukuman bukanlah jawaban atau solusi yang tepat untuk menghentikan kenakalannya.

Cara ini dapat dilakukan dengan dengan memperhatikan perilakunya di dalam kelas. Dalam hal ini, seorang guru harus benar-benar sabar saat mengamati perilaku menyimpang anak. Ketika ditemukan penyebab nakal anak, apakah sepenuhnya kesalahannya atau apakah memang anak tersebut yang memulai masalah dengan temannya adalah pertanyaan yang harus terjawab dari pengamatan tersebut. Setelah jawaban ditemukan, seorang guru sebaiknya mengajak bicara anak dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Ajaklah dia berbicara dalam suasana yang hangat, dan tidak cenderung mengintimidasinya. Tanyakan penyebab anak tersebut berbuat kenakalan. Penyebab kenakalan ini bisa terlahir dari dalam lingkungan keluarga yang secara tidak sengaja dicontoh, tayangan televisi dan lain-lain.

Sesi tanya-jawab dengan anak kemudian disampaikan pada orang tua sebagaimana pengalihan tanggung jawab anak diberikan pada seorang guru. Dalam hal ini, seorang guru hendaknya memberikan himbauan pada orang tua agar apa yang dilihat, didengar dan dirasakan anak bersifat positif dan tidak mengarah pada kekerasan baik fisik maupun ucapan. Cara mengatasi anak nakal ini harus disertai dengan menganjurkan mengoreksi diri sesama orang tua. Sehinga pendidikan di rumah maupun di sekolah anak menjadi kondusif dan efektif. Di dalam pembicaraan ini, sebaiknya guru memberikan anjuran untuk tidak bersikap keras pada anak dengan menghukum atau membentaknya karena kenakalannya. Karena bisa saja akan mematikan aspek psikologisnya yang berpengaruh di masa depannya.

4. Ketahui Permasalahannya

Anak merupakan manusia yang paling peka dengan begitu polosnya menunjukkan apa saja yang dirasa dan dipelajarinya. Dalam hal ini kurang peka dan perhatiannya orang tua dapat menjadi penyebab kenakalan anak. Kenakalan anak di sekolah bisa merupakan bentuk penyikapan anak dalam meminta perhatian lebih pada orang disekitarnya. Jika hal ini terjadi maka seorang guru sebaiknya memberikan perhatian lebih pada anak karena guru merupakan pengganti orang tua di sekolah. Cara mengatasi anak nakal adalah dengan memperhatikan segala kebutuhan, mengingat namanya, menemaninya saat merasa kesepian dan berbicara lembut padanya. Sesekali berikan pelukan, gandeng tangannya, dan berbicara diselingi senyuman ketika menghadapinya.

Pastikan guru terus memantau setiap perilaku anak nakal ini di dalam maupun luar lingkungan sekolah. Memang jika siswa berbuat naka di luar kelas bukan menjadi tanggung jawab dari pihak sekolah atau guru , tetapi harus juga di ingat jika seorang siswa berbuat nakal di luar kelas maka nama sekolah atau guru menjadi terbawa-bawa. Maka untuk menghindari hal tersebut yang perlu di perhatikan adalah harus adanya kerjasama guru dan orangtua siswa.Dan guru juga harus menjalin kerjasama dengan orangtua siswa dalam hal memonitor perkembangan pendidikan siswa yang bersangkutan.

5.  Beri Tanggung Jawab

Terdapat cukup banyak faktor yang dapat menyebabkan anak didik kita menjadi nakal di kelas. Salah satunya karena mereka tidak memiliki sesuatu hal yang dapat menyibukkan diri mereka. Oleh karena itu coba berikan tanggung jawab seperti, menjadi ketua kelas, mencatat siswa yang nakal dikelas, atau hal-hal lain dalam batas-batas kewajaran

6. Ciptakan Kegiatan Pembelajaran Yang Kreatif dan Menarik

Dengan kegiatan pembelajaran yang menarik akan membuat anak didik yang nakal menjadi tertarik dan mengikuti pelajaran dengan antusias . karena cukup banyak siswa yang memperlihatkan kenakalan di kelas / sekolah yang disebabkan pembelajaran yang membosankan dan kurang menarik bahkan mungkin tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru, maka tugas guru yang baik  adalah untuk menciptakan KBM yang menarik dan aktif namun tetap dapat membuat anak didik memahami materi yang diajarkan sehingga antusiasme anak didik kita terhadap pelajaran kita tinggi .

7. Berdo’a untuk anak tersebut.

 Ucapkan namanya setiap kita berdo’a. Berharaplah apa yang kita minta akan dikabulkan Allah dan saat kita menghadapinya Allah mengkaruniakan kesabaran pada diri kita. Yakinlah dia akan berubah, karena keyakinan itu adalah doa. Dia pasti berubah, entah itu besok, lusa, atau kapanpun.

Carilah info yang lengkap tentang siswa yang dianggap “nakal”. Tujuannya adalah agar kita lebih paham tentang latar belakanngya. Harapanya kita akan lebih bisa bersabar dan pengertian dalam menangani perilakunya.

Kita sebagai guru selalu berharap yang terbaik untuk siswanya karna tidak ada guru didunia ini yang ingin melihat anak didiknya menjadi nakal. Guru hanya menginginkan anak didiknya menjadi anak yang baik, berprestasi dan mampu membanggakan kedua orang tuanya serta guru-gurunya. Hidup untuk guru Indonesia.

Share:

PENINGKATAN AFEKTIF MELALUI KARTU KENDALI DAN JURNAL KOMUNIKASI GUNA MENINGKATKAN KOGNITIF SISWA KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR DI MASA PANDEMI

 A. LATAR BELAKANG

Selama masa pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) melanda Indonesia, proses pembelajaran di sekolah dihentikan. Pembelajaran tatap mukapun beralih menjadi pembelajaran tatap maya. Pembelajaran yang mulanya di sekolah berganti menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)ini adalah program yang dianjurkan oleh Pemerintah. Di dalam program ini ada tiga pilihan cara belajar yang dianjurkan diantaranya: pembelajaran dalam jaringan (daring), pembelajaran luar jaringan (luring) dan home visit. Dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)ini, pihak sekolah mengambil kebijakan untuk memberlakukan pembelajaran luar jaringan (Luring).

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah dilakukan lebih dari satu tahun ini membuat banyak orang tua resah dan mulai mengeluh. Berdasarkan hasil pertemuan dengan orangtua murid, banyak yang mengutarakan anaknya malas belajar serta mengalami rasa jenuh belajar di rumah. Hal tersebut dikarenakan murid merasa tidak bahagia dan kurang menyenangkan belajar di rumah. Mereka merasa tertekan dan tidak bebas. Terkadang ada beberapa murid yang emosional setiap diminta belajar di rumah. Mereka lebih memilih bermain diluar rumah ataupun bermain gawai. Pernyataan tersebut didukung dengan data hasil belajar siswa yang semakin menurun.

Hal tersebut tidak sesuai dengan hakikat pendidikan yang bertujuan memerdekakan jiwa serta menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan yang awalnya menyenangkan bagi siswa merubah menjadi sangat membosankan. Karena siswa hanya disuguhkan dengan tugas-tugas yang diberikan saat pembelajaran luring. Jadi, hakikat dari pendidikan yang sesungguhnya telah tercoreng. Pendidikan yang dilakukan di sekolah maupun di rumah telah gagal .

Berdasarkan latar belakang tersebut saya merasa perlu melakukan perubahan dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Saya ingin memperbaiki afektif murid terlebih dahulu. Jika afektifnya telah baik maka semangat belajarnya meningkat sehingga kognitifnya berkembang. Maka dari itu saya ingin mengetahui bagaimana suasana hati, sikap serta aktivitas murid selama belajar di rumah. Dan juga saya ingin menciptakan pembelajaran menyenangkan dengan Sistem Among serta berkolaborasi dengan orangtua murid. Maka dari itu, saya akan memanfaatkan Kartu Kendali dan Jurnal Komunikasi dalam upaya meningkatkan afektif siswa selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

B.   DESKRIPSI AKSI NYATA

Berdasarkan latar belakang tersebut, untuk meningkatkan motivasi dan semangat belajarserta menciptakan pembelajaran menyenangkan dengan Sistem Amonglangkah pertama yang saya lakukan adalah membuat asesmen diagnosis non kognitif. Analisis diagnosis non kognitif bertujuan untuk mengetahui bagaimana perasaan murid selama belajar di rumah. Asesmen diagnosis non kognitif dibuat dalam bentuk selebaran yang dibagikan kepada orangtua murid saat mengambilan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) di sekolah. Berikut adalah Asesmen Diagnosis Non Kognitif: 

 

Asesmen Diagnosis Non Kognitif

Baca Juga   Bagaimana cara mengelola pembelajaran efektif secara daring ?

Berdasarkan hasil analisis diagnosis non kognitif, dapat diketahui bahwa sebagian besar murid kelas II-B merasa kurang bahagia dan sudah jenuh saat belajar secara luring di rumah dan banyak murid yang berharap agar bisa secepatnya masuk sekolah.

Berdasarkan hal tersebut saya berinisatif untuk membuat video pembelajaran serta mengirimkan video tersebut ke WA orangtua murid. Selain itu saya membuat Kartu Kendali untuk mengetahui prilaku dan aktivitas murid di rumah. Berikut kartu kendali :

contoh kartu kendali


Kartu kendali ini merupakan penilaian orangtua murid terhadap afektif anaknya. Setelah orangtua mengobservasi sikap anaknya selama di rumah, kartu kendali tersebut dilaporkan kepada saya. Dalam hal ini terjadi diskusi antara guru dan orangtua terhadap perkembangan sikap anak serta permasalahan yang dihadapi orangtua dalam mendidik anaknya di rumah.

Berdasarkan hasil kartu kendali tersebut saya membuat Jurnal Komunikasi untuk membantu orangtua dalam membimbing anaknya di rumah agar terjadi perubahan afektif anak ke arah yang lebih baik. Sehingga diharapkan jika afektif anak telah baik, maka kognitif akan berkembang.

Selain itu, saya melakukan Home Visit kepada murid yang hasil observasi Kartu Kendalinya kurang baik.

C.   HASIL AKSI NYATA

Hasil yang diperoleh dari aksi nyata “Peningkatan Afektif  Melalui Kartu Kendali dan Jurnal Komunikasi Guna Meningkatkan Kognitif Murid” adalah sebagai berikut:

1. Guru dapat mengetahui karakter dan keinginan murid melalui diagnosis nonkognitif dan kartu kendali.

2. Guru menciptakan pembelajaran menarik dan diferensiasi melalui video pembelajaran dan home visit.

3. Terjalin komunikasi serta kolaborasi antara guru dan orangtua dalam mendidik murid.

4. Menanamkan pendidikan karakter melalui peningkatan kesadaran murid bahwa sikap dan prilakunya selalu dipantau guru melalui observasi kartu kendali yang dilakukan orangtuanya.

D.   PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT DALAM AKSI NYATA

Dalam pelaksanaan aksi nyata peningkatan afektif guna meningkatkan kognitif murid, saya mendapatkan pembelajaran baru. Baik kegagalan dan keberhasilan.

Kegagalan yang saya alami adalah persiapan yang saya lakukan kurang matang dalam melakukan home visit. Dikarenakan keterbatasan waktu dan kemampuan saya dalam menjangkau rumah murid-murid saya, jadi home visit tidak bisa saya lakukan secara menyeluruh. Saya hanya memprioritaskan murid yang paling mengalami banyak kendala. Saya sadar dalam hal ini saya kurang bersikap adil. 

Namun dikarenakan kendala dan keterbatasan yang saya miliki, terpaksa harus melakukan kebijakan seperti ini.

Selain kegagalan saya juga mendapatkan keberhasilan dalam pelaksanaan aksi nyata ini. Saya berhasil menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan orangtua murid. Saya dapat memahami karakter orangtua murid sehingga dapat menjalin kolaborasi yang baik dalam mendidik murid-murid. Makna dari memanusiakan hungungan saya dapatkan dari program kartu kendali dan jurnal komunikasi ini. Selain itu, melalui analisis diagnosis non kognitif saya dapat memahami karakter dan keinginan murid saya walaupun sebelumnya belum pernah bertemu. Dalam hal ini saya sudah mulai menerapkan makna pendidikan yang hakiki yaitu menuntun murid bukan menuntut murid sesuai kehendak guru. 

Saya juga merasa terharu ketika orangtua murid sangat senang dan berterimakasih karena saya telah meluangkan waktu untuk datang berkunjung mengajar anaknya. Dan rasa bahagia yang amat mendalam ketika melihat murid bahagia saat belajar di rumahnya bersama saya. Bahkan mereka ingin saya lebih sering datang berkunjung untuk mengajari mereka. 

E.  RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG

Untuk kedepannya saya akan lebih mempersiapakan diri agar bisa melakukan home visit ke seluruh murid saya. Selain itu saya akan menularkan semangat ini kepada teman sejawat. Selain itu, saya akan merekomendasikan kepada atasan agar secara berkala  seluruh guru diajak untuk melakukan refleksi tentang praktik baiknya dalam mengajar. Sehingga dari refleksi tersebut akan diketahui keberhasilan dan kegagalan yang perlu diperbaiki. Sehingga semangat dalam mencerdaskan anak bangsa akan tetap terjaga.


Share:

BAGAIMANA MENGELOLA PEMBELAJARAN EFEKTIF SECARA DARING ?

Masa pandemi di Indonesia yang sudah berlangsung lebih dari satu tahun ini,  memberikan dampak yang cukup besar di segala bidang. Salah satunya dalam bidang pendidikan, banyak sekali perubahan yang cukup besar terjadi dan hal ini menjadi tantangan yang cukup besar pula tidak hanya bagi siswa namun juga bagi para guru. 

 Proses pembelajaran selama pandemi ini dilakukan lewat daring atau secara online. Banyak  keluhan-keluhan yang didapat selama pembelajaran daring ini. Banyak kisah menarik , lucu, maupun sedih yang terjadi dalam proses pembelajaran metode ini. Para pendidik kewalahan dalam melaksanakan dan mempersiapkan pembelajaran (karena gagap teknologi ), orang tua stress mendampingi anak-anaknya belajar dirumah,dan siswa kebingungan menghadapi tumpukan tugas  dari para pendidik yang sedang gagap.

Proses pembelajaran daring atau online ini  telah merubah manajemen kelas yang sebelumnya dilakukan secara langsung atau tatap muka, sekarang berubah menjadi online. Agar manajemen kelas tetap berjalan efektif pemerintah menginstruksikan kepada para pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang mengasikkan dari rumah bagi siswa. Maka dari itu, diharapkan para pendidik dapat lebih kreatif lagi dalam proses pembelajaran secara online, bukan hanya sekedar mengerjakan tugas-tugas atau menjelaskan materi (transfer of knowledge), tetapi juga dapat memperhatikan nilai-nilai karakternya. Pendidik harus dapat mempersiapkan metode ataupun kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang agar siswa semakin antusias (Saifulloh, A. M & Darwis, M. 2020).

Manajeman kelas yang efektif dapat memaksimalkan kesempatan belajar bagi anak-anak. Para ahli  manajemen kelas mengatakan bahwa terjadi perubahan pemikiran mengenai cara terbaik dalam mengelola ruang kelas. Pandangan lama menekankan pada pembuatan serta penerapan aturan untuk mengontrol perilaku siswa. Sedangkan pandangan yang baru lebih menekankan dan berfokus pada pemenuhan kebutuhan untuk memelihara serta menciptakan peluang untuk pengaturan diri (Santrok, 2018). Pandangan lama membuat siswa menjadi pasif serta kurang terlibat dalam pembelajaran karena terbatas oleh peraturan-peraturan kaku yang dibuat dan ditetapkan oleh guru. Sedangkan pandangan yang baru lebih menekankan bagaimana siswa menuju disiplin diri dan tidak terlalu menekan siswa. Jika biasanya di dalam kelas guru bertindak sebagai pemimpin, dalam tren pendidikan sekarang yang berpusat pada siswa,  guru hanya sebagai fasilitator serta koordinator. Namun, bukan berarti guru melepas tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kelas.

ilustrasi gambar

Baca Juga  :  Menerapkan Coaching sebagai cara menstimulus


Telepun (2020) menjelaskan bagaimana cara memotivasi peserta didik serta meningkatkan pembelajaran yang efektif selama pembelajaran online .Yaitu  dengan menggunakan metode edutainment yang menekankan prinsip-prinsip pembelajaran berkualitas namun tetap menyenangkan atau entertaining bagi siswa, dalam metode  pembelajaran ini terdapat diskusi, simulasi, game, dan lainnya yang dapat membuat suasana lebih menyenangkan dan membuat  siswa turut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Keberhasilan dalam menggunakan model pembelajaran edutainment  ini ditentukan oleh kemampuan guru dalam merancang pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran secara daring.

Langkah-langkah tersebut dapat diurutkan sebagai berikut:

1.  Membuat materi pengajaran dalam bentuk Power Point Presentasi yang menarik dan informatif yang kemudian diubah ke dalam bentuk PDF sehingga mudah bagi peserta didik untuk mengakses dan menyimpan dalam telepon selular atau komputer mereka. 

2.  Guru membuat atau menggunakan video simulasi atau tutorial untuk menjelaskan materi yang telah disampaikan dengan singkat dan padat. 

3.   Rencana manajemen kelas disusun menggunakan aplikasi Google Classroom, Edmodo, Schoology, Ms. Teams atau yang lain sehingga memudahkan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran. 

4.  Materi pembelajaran yang telah disusun dalam satu semester dapat disusun menjadi ebook yang lebih interaktif dalam bentuk PDF sehingga dapat menjadi panduan bagi peserta didik untuk belajar secara mandiri. 

5. Guru dapat memaksimalkan penggunaan media sosial untuk berinteraksi dan melaksanakan pembelajaran, seperti Whatsapp, Line, Telegram dan lainnya. Penggunaan media sosial ini cukup efektif dan efisien dalam  proses pembelajaran daring karena peserta didik dapat dengan mudah mendapatkan pengajaran atau instruksi dari pendidik 

Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok  kecil agar lebih mudah untuk mendampingi, melakukan pembelajaran seta memantau perkembangan siswa 

7.  Sekolah memantau pembelajaran dengan menggunakan beberapa aplikasi seperti Quipper, Edmodo, atau Moodle atau yang lain agar tetap dapat mengorganisir pembelajaran secara daring. 

8.  Melakukan kerjasama antara guru dan orang tua.Hal ini menjadi sangat penting karena para orang tua dapat memantau proses pembelajaran anak-anak mereka.

Manajeman kelas serta proses pembelajan yang efektif merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran khususnya dalam pembelajaran daring atau online seperti saat ini. Metode-metode yang digunakan oleh para guru atau pendidik harus dibuat semenarik mungkin agar para siswa tidak mudah jenuh dan tetap dapat mengikuti kelas atau proses pembelajaran dengan baik. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu menguasai teknologi.Namun tidak sedikit para guru masih mengalami gaptek atau gagap teknologi (ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan teknologi modern seperti computer atau gawai).

Untuk mengatasi masalah menghadapi teknologi berikut beberapa tips yang dapat dijalani oleh para guru atau pendidik, anatara lain :

1.  Mengikuti pelatihan

Untuk meningkatkan kompetensi berbasis TIK ( Teknologi Informasi Komputer) ,para guru atau pendidik dapat mengikuti program pelatihan –pelatihan atau webinar yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.

2.  Sering Latihan di Rumah

Para guru atau pendidik disarankan untuk terus melatih hasil pelatihan agar terbiasa dengan penggunaan teknologi hingga mahir.

3.  Aktif Bertanya atau mencari tahu

Ketika menghadapi hambatan dalam menggunakan teknologi bapak /ibu guru dapat bertanya atau mencari tahu penggunaan teknologi atau aplikasi tertentu dari internet. Hal ini sekaligus melatih keterampilan menggunakan teknologi.

4.  Mencari  Tahu Aplikasi Pendukung Pembelajaran

Untuk mendukung pembelajaran bapak/ibu guru dapat mencari tahu dan mengunduh aplikasi yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh menjadi lebih efisien,seperti : Whatsapp dengan fitur grup chat, Google Classroom, Edmodo, Schoology, Ms. Teams  atau lainnya.

Disamping itu, agar pembelajaran daring berjalan efektif,  kerjasama antara guru, siswa, serta orang tua juga sangat penting agar proses pembelajaran dikelas berjalan dengan baik dan lancar.

Demikian semoga bermanfaat dan semoga dengan menguasai teknologi akan meningkatkan kompetensi dan kinerja para guru. Tetap semangat, Salam Sehat !


Share:

MENERAPKAN COACHING SEBAGAI CARA MENSTIMULUS & MEMBERDAYAKAN KEKUATAN YANG DIMILIKI SISWA

Pada saat ini banyak sekolah dihadapkan pada suatu tantangan yang besar, yaitu keberagaman minat dan bakat serta kemampuan mengelola sosial emosional siswa di dalam kelas. Keberagaman ini tidak akan tampak, jika seorang guru hanya berpaku pada konsep lama yang dimana siswa harus mengikuti kemauan yang diinginkan oleh guru. Guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplore minat dan bakat yang ada pada dirinya dalam pengerjaan tugas yang diberikan. Hukum paku mati tersebut menimbulkan titik kejenuhan pada setiap siswa sehingga memerlukan penanganan coaching didalamnya.

Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif. Kemampuan berkomunikasi menjadi kunci dari proses coaching sebab pendekatan dan teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan proses mendorong dari belakang sehingga coachee dapat menemukan jawaban dari apa yang dia temukan sendiri (Pramudianto, 2015), bukan dengan diarahkan atau digurui inilah yang menjadi keunikan coaching.

Penerapan proses coaching dapat mengikuti sebuah alur/tahapan dari sebuah model coaching TIRTA. Dengan model ini guru akan terbantu untuk meng-coach siswa dengan lebih baik. Pada table 1 di bawah ini dipaparkan suatu proses coaching yang populer digunakan yaitu dengan menggunakan alur/tahapan TIRTA. TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Way Forward. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan) : coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata) : proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan) : coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi siswa agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah. Kepanjangan dari TIRTA yaitu, T : Tujuan, I : Identifikasi, R : Rencana Aksi, TA : Tanggung Jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Tugas kita sebagai guru, menjaga air itu tetap mengalir tanpa sumbatan.

Konsep TIRTA

Baca Juga : Paradigma Guru sejatinya sebagai Coach 

Fenomena sekarang ini, kita dapat melihat banyak guru melakukan tugas konseling yang hanya menerapkan pengarahan satu arah dan juga nasehat saja kepada para siswa. Hal ini menyebabkan siswa tumbuh dengan dorongan motivasi ekstrinsik yang datang nya dari luar atau pengaruh orang lain. Kita berharap siswa menemukan kekuatan yang ada pada dirinya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (motivasi intrinsik). Melalui Coaching, dimana guru akan berperan sebagai pemimpin pembelajaran dengan gaya kepemimpinan guru sebagai coach yang dimana guru lebih banyak mendengar secara aktif serta bertanya untuk menggali lebih banyak serta memberikan umpan balik positif yang konstruktif dalam rangka menggali pencapaian potensi diri dari siswa yang dituntunnya (coachee). Selain itu, guru akan melibatkan siswa dalam mengambil suatu keputusan, sehingga dari keputusan yang diambil, siswa akan memiliki “rasa memiliki” atas keputusan tersebut dan akan bertanggung jawab dan berkomitmen dalam melakukannya.

Memang menerapkan coaching dan menjadi coach tidaklah mudah, karena guru harus memiliki keterampilan mendengarkan dengan baik, kemampuan bertanya yang jitu dan pengelolaan emosi yang matang sehingga dapat sabar, berempati dalam melakukan coaching dengan siswanya. Walaupun menerapkan coaching dan menjadi coach tidaklah mudah, namun jika ini diterapkan dengan baik akan berdampak dalam pengembangan kemampuan dan juga potensi dari siswa tersalurkan dengan baik.

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu “menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya “. Oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching siswa diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar siswa tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang “pamong” dapat memberikan “tuntunan” melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses “menuntun” kemerdekaan belajar siswa dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat siswa menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu siswa mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak siswa. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat siswa melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat siswa lebih berfikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, siswa dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.


Daftar Pustaka

Pramudianto. 2015. “I’m a Coach : Strategi mengembangkan diri dengan coaching.” Yogyakarta : Penerbit ANDI.

McMahon. G and Archer, A. 2010. “101 Coaching Strategies and Techniques.” London : Routledge


Share:

Paradigma Guru Sejatinya Sebagai Coach Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Peserta Didik Dengan Penerapan Emosi dan Sosial

 Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif.  Program merdeka belajar, gagasan Menteri  Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, ini merupakan pilihan bebas yang dapat diberikan kepada murid agar sesuai dengan minat dan karakter mereka. Ki Hajar Dewantara menyebut tiga semboyan paling mendasar tentang peran seorang guru yakniIng Ngarso Sungtulodo ,Ing Madya Mangunkarso,Tut Wuri Handayani .Kalimat terakhir yang tak asing kita dengar  dan paling hapal tetapi tidak memahaminya secara holistik. Padahal dua kalimat sebelumnya juga sama pentingnya menjelaskan peran guru sebagai fasilitator pendidikan. Pemahaman yang keliru apabila guru hanya sekadar mentransfer ilmu dan selepas itu asyik dengan rokok dan kopinya. Pemahaman yang keliru pula apabila guru hanya mendorong peserta didik kerjakan tugas ini dan itu, menagih PR, mengerjakan ulangan, menyalin buku tetapi lupa memberikan semangat dan teladan.Penerapan kurikulum yang sebenarnya dijalankan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah mengembalikan peran pendidikan masa lampau yang berperan sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Bagaimana tidak selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya sistem pendidikan dipenuhi dengan kepentingan dan doktrinasi yang bersifat otoritatif. Berbeda dengan sekarang ini peserta didik diajak bereksplorasi dan menemukan pengetahuan secara mandiri. Pengetahuan menjadi milik sendiri dan bukan dari hasil pencekokan dan kepentingan orang tertentu. Kebebasan berpendapat membuat peserta didik memiliki hak mendiskusikan, mempertanyakan, dan mempertajam pengetahuan tersebut. Karakteristik inilah yang sebenarnya dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara secara tidak langsung dalam konsep taman siswanya. Bahkan jauh sebelum itu pun Kartini yang mengangkat peran perempuan dalam pendidikan telah memperlihatkan esensi pendidikan yang sebenarnya mencerahkan dan menjadi kerinduan masyarakat untuk dinikmatid dari segala lapisan masyarakat.

Tugas guru tidak hanya menjalankan kurikulum  tetapi juga menjadi penghubung  antara kurikulum  dan  minat  siswa, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda, dalam dunia yang terus berubah yang dibutuhkan bukanlah seorang pekerja yang hanya bisa mematuhi perintah, tapi seseorang guru  yang bisa dengan kreatif memecahkan masalah dan membuat terobosan, seorang guru  yang tak tergantikan, menjadi dirinya sendiri, seorang guru dalam konteks pendidikan nasional dia bukan sekadar membuat peserta didik mampu secara kognitif tetapi juga menolong dirinya dalam aspek sosial, spiritual, dan keterampilanDengan demikian sebenarnya guruatau sekolah  bukanlah penyelenggara pendidikan tetapi justru peserta didik itu sendiri. Guru yang baik adalah guru yang mampu membimbing peserta didiknya menciptakan kurikulum bagi dirinya sendiri.Guru tersebut bisa disebut guru profesional yang memotivasi dan menginspirasi sehingga tumbuh minat yang kuat dalam diri peserta didik untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Oleh sebab itu, guru harus mampu menyajikan pembelajaran yang bermakna, aktif, dan menyenangkan. Guru tidak sekadar dituntut untuk memenuhi kualifikasi akademik, namun juga dituntut berjiwa revolusioner yang memiiliki berbagai kompetensi (Ibda, Wijayanti, 2017: vii). Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah profesionalisme. Mengacu pada Undang-undang Republik Indonesia (RI) No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat (1) dengan tegas menjelaskan bahwa Guru adalah tenaga professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia sekolah pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Begitu pula menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2), menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Optimalisasi potensi dan kompetensi coaching seorang guru bisa mengantarkan prestasi peserta didik pada potensi terbaik mereka sehingga peran guru sebagai pewaris profetik dalam mendidik generasi umat bisa terwujud. Program Kemendikbud tentang ‘Merdeka Belajar’ membuat guru harus lebih dahulu menguasai konsep dan esensi ‘kemerdekaan berpikir’ sebelum mengajarkan kepada peserta didik. Guru diharapkan lebih kreatif dan inovatif membawakan pembelajaran  berdasarkan penerjemahan kompetensi dasar dan kurikulum yang ada. Di era digital abad -21guru  berada di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Kepala Sekolah yang memiliki peran di kepemimpinan pembelajaran menjadi point center bagi para guru. Kepala sekolah harus mampu mendampingi para guru untuk tetap maksimal menjalankan peran tersebut, dengan memaksimalkan potensi yang sudah ada pada pribadi masing-masing guru.

Aktivitas coaching, konseling, dan mentoring tidaklah sama. Dalam proses pembelajaran coaching ini penting sekali dilakukan sebagai salah satu aspek keterampilan guru dalam memimpin pembelajaran untuk mengarahkan anak didiknya meningkatkan kemampuan, melejitkan jati diri serta potensi yang dimilikinya. 

ilustrasi gambar

Baca Juga : Pengelolaan Program yang berdampak pada murid

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan sebuah proses atau filosofi untuk pengajaran efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam termasuk cara untuk mendapatkan konten, mengolah, membangun, atau menalar gagasan, dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran peniaian sehingga semua siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif. Proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk menjawab kebutuhan,gaya, atau minat belajar dari masing-masing siswa.(wikipedia)Coaching Withmore (2017:25) menyebutkan bahwa “Coaching is unlocking people’s potential to maximize their own performance,” artinya, coaching adalah pembuka kunci untuk memaksimalkan pontensi kinerja dalam diri seseorang. Coaching adalah kemitraan, kolaborasi, dan kepercayaan pada potensi. Coaching adalah proses di mana individu mendapatkan keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan diri secara profesional dan menjadi lebih efektif dalam pekerjaan mereka. Ketika individu mendapatkan coaching dari atasan, mereka dapat meningkatkan kinerja mereka baik dalam saat ini, dan juga meningkatkan potensi mereka untuk berbuat lebih banyak di masa depan.

Dalam melaksanakan perannya sebagai coach, seorang guru sebaiknya bersedia dalam mengembangkan 4 Keterampilan dasar dalam melakukan coach, yaitu keterampilan membangun dasar proses coaching, Keterampilan membangun hubungan baik, keterampilan berkomunikasi dan keterampilan memfasilitasi pembelajaran. Coaching juga dapat dilakukan fleksibel, baik formal atau pun tidak formal. Coaching adalah gaya pembinaan dengan cara berkomunikasi, yang lebih banyak mendengar secara aktif serta bertanya untuk menggali lebih banyak serta memberikan umpan balik positif yang konstruktif dalam rangka menggali pencapaian potensi diri dari orang yang dituntunnya (coachee). Selain itu, kepala madrasah akan melibatkan guru dalam mengambil suatu keputusan, sehingga dari keputusan yang diambil, guru akan memiliki “rasa memiliki” atas keputusan tersebut dan akan bertanggungjawab dan berkomitmen dalam melakukannya. Memang menerapkan pembinaan dengan coaching ini tidaklah mudah, karena kepala madrasah harus memiliki ketrampilan mendengarkan dengan baik, kemampuan bertanya yang jitu dan pengelolaan emosi yang matang sehingga dapat sabar, berempati dalam melakukan coaching dengan guru. Diketahui untuk membangun sebuah hubungan yang baik secara efektif, yakni dengan tiga perangkat komunikasi yaitu Content (Katakata), Body Posture and Facial Expression (Bahasa Tubuh), Voice Pitch and Volume (Intonasi Suara). dua. Active Listening (Mendengarkan Secara Aktif) Dengan menjadi pendengar yang aktif,kita dapat dengan mudah menghindari kesalahpahaman yang seharusnya tidak perlu terjadi. tiga. Clarifying (Mengklarifikasikan untuk kejelasan pembicaraan) Mengklarifikasi bertujuan untuk membantu menemukan permasalahan yang sesungguhnya.Dalam tiga kali pelaksanaan supervisi dan tiga kali pembinaan dengan metode coaching, setiap guru mengalami peningkatan kinerja dalam mengajar. Jika pembinaan dengan metode coaching dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, maka akan memberikan dampak perubahan kinerja mengajar guru yang lebih besar sehingga penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan Emosi dan Sosial siswa kearah yang lebih baik. Keberhasilan tersebut akan dapat mewujudkan siswa yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. 


REFERENSI

Ibda, Hamidulloh; Wijayanti, Dian Marta. 2017. Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? Depok: Kalam Nusantara

Whitmore, Sir John. 2019. Coaching for Performance: The Principles and Practice of Coaching and Leadership, London: Nicolas Brealey Publishing.

Wikipedia


Share:

Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi terhadap Keberagaman Siswa di Kelas

 Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang bisa memberikan dan memfasilitasi kebutuhan dari setiap peserta didiknya. Berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai dengan sekarang ini, pendidikan di Indonesia masih belum banyak perubahan, di mana masih menerapkan sistem pembelajaran lama yang menganggap semua anak adalah sama, lebih berpusat pada guru, tanpa memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berpartisipasi aktif  dalam belajar.

Siswa hanya duduk diam mendengarkan guru tanpa melakukan sesuatu yang akan menambah              pengalaman belajar bagi mereka. Guru seolah-olah hanya mengajar satu orang murid saja dalam satu kelas, sedangkan di dalam kelas ada kurang lebih 30-40 siswa yang mempunyai keunikan, kemampuan dan keberagaman pengalaman belajar yang berbeda. Tidak jarang anak-anak merasa frustasi dan akhirnya tidak memiliki motivasi untuk belajar, karena mereka datang ke sekolah hanya untuk ujian, ujian dan ujian. 

Pendidikan haruslah sadar bahwa, setiap anak adalah unik dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak yang lainnya. Pendidikan, seharusnya bisa mengakomodasi dari semua perbedaan ini, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu. Keberagaman dari  setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka. 

PEMBAHASAN

A. Differentiated Instruction (Pembelajaran Berdiferensiasi)

Anak-anak yang memiliki usia yang sama dan datang ke sekolah bersama-sama, belum tentu memiliki kesamaan ukuran badan, hobi, kepribadian, kesukaan atau ketidaksukaan yang sama. Kemampuan mereka pun juga beragam, mungkin ada yang sudah paham banyak hal tetapi ada juga yang belum memahami apapun. Mereka memiliki suatu hal yang berbeda, karena anak-anak ini adalah manusia yang mempunyai banyak hal yang berbeda dalam dirinya. Mereka terlahir dari latar belakang, budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda pula sehingga akan sangat berpengaruh terhadap semua hal pada diri anak tersebut.

Kelas yang ditandai dengan keanekaragaman kultur dan bahasa, menuntut beragam strategi untuk mendiferensiasikan pengajaran agar kebutuhan siswa yang beragam dan banyak tersebut akan terpenuhi. Dalam kelas yang didiferensiasikan, guru akan memulai mengajar berdasarkan kebutuhan, kesiapan (di mana posisi siswa), minat dan kemudian menggunakan banyak model mengajar dan penataan instruksional untuk memastikan bahwa siswa meraih prestasinya. 

Dalam penjelasan Tomlinson (2001:1), pada pembelajaran diferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid-murid akan bisa lebih belajar dengan efektif.

“In its simple form, differentiated instruction means that you are consistently and proactively     creating different pathway to help all your student to be succesfull”. Dari pernyataan tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam pembelajaran diferensiasi seorang guru harus konsisten dan proaktif dalam mencari jalan untuk membantu murid-muridnya belajar sehingga akan mencapai kesuksesan dalam mencapai atau meraih proses pembelajaran di kelas. Sebagai contoh, apabila guru memberikan tugas membaca kepada murid-muridnya, guru harus mengetahui tingkat level kemampuan membaca muridnya sehingga memberikan tugas membaca sesuai dengan tingkat level membaca murid tersebut dan juga bisa mengaitkannya dengan ketertarikan dari murid tersebut. Sehingga pembelajaran diferensiasi tidak menambah beban murid-murid dalam belajar tetapi justru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan merangsang anak untuk terus belajar sehingga akan membantu anak dalam mencapai kesuksesan dalam belajar. 


ilustrasi gambar

Baca Juga : Kelas yang didambakan 

Adapun dalam referensi lain yang dimaksud dengan Differentiated of instruction adalah modifikasi kurikulum di mana semua anak bisa belajar dalam satu kelas dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Pendekatan ini dilakukan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas dengan berbagai kemampuan anak yang berbeda dalam kelas tersebut. Maksud dari differentiated itu sendiri adalah setiap anak mempunyai standar kurikulum yang berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhannya. Hal ini dimaksudkan bahwa guru harus memodifikasi isi, proses/cara berpikir (the thinking process) dan produk yang harus dikerjakan sebagai evaluasi, berdasarkan karakteristik anak, tingkat kesiapan anak, interest atau kesukaan anak, kecerdasan majemuk (mulltiple intelegences), pemberian instruksi dan pembelajaran atau materi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan anak, memperdalam pemahaman, dan melibatkan kerja kelompok. (Hollas, 2005:2). Menurut Gregory dan Chapman (2007:2) mengungkapkan hal-hal yang mendukung pandangan atau filosofi mengenai pembelajaran diferensiasi adalah sebagai berikut.

a. Semua siswa pada dasarnya memiliki kekuatan dalam bidang-bidang tertentu

b. Semua siswa memiliki bidang yang butuh untuk dikuatkan

c. Setiap otak siswa adalah unik seperti suatu sidik jari (fingerprint)

d. Tidak ada kata terlambat untuk belajar

e. Ketika memulai suatu topik yang baru, siswa membawa dasar pengetahuan mereka sebelumnya dan pengalaman dalam belajar

f. Emosi, perasaan, dan sikap berpengaruh pada belajar

g. Semua siswa dapat belajar

h. Siswa-siswa belajar dengan cara yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda- beda pula

Banyak guru yang belum bisa membayangkan bagaimana pendekatan pembelajaran diferensiasi ini dikarenakan sudah bertahun-tahun lamanya melakukan suatu proses pembelajaran satu arah dan berpusat hanya pada guru. Dengan menggunakan strategi diferensiasi dan memberikan kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dilihat dari kesiapan, minat dan gaya belajar siswa maka diharapkan kebutuhan siswa akan terpenuhi, siswa akan bisa belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Model pembelajaran diferensiasi ini bukan suatu model pembelajaran yang baru. Model pembelajaran ini diperlukan suatu kesadaran dan juga kerja keras yang sungguh-sungguh dalam menganalisa data informasi yang didapat dari peserta didik di kelas, kemudian data tersebut digunakan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan dalam memberikan pembelajaran kepada peserta didik yang akan disesuaikan dengan kemampuan serta digunakan dalam mengubah sesuatu yang perlu diubah juga memberikan hal-hal yang lebih diperlukan bagi peserta didik masing- masing.

Untuk lebih memahami apa itu pembelajaran diferensiasi dan yang membedakan dengan pendekatan lain, akan dibahas satu persatu berkenaan dengan hal tersebut.

1. Pembelajaran diferensiasi bukanlah pembelajaran individual

Seperti halnya yang terjadi pada perkembangan pendidikan pada tahun 70an, bahwa jika ada murid yang memiliki tingkat perbedaan kemampuan dalam kelas, maka dalam belajar sesuai dengan kemampuannya, anak tersebut akan ditarik dari kelas dia berada dan akan diberikan pembelajaran individual sesuai dengan kemampuannya yang berada di ruangan lain atau terpisah dari kelasnya tersebut. Berbeda dengan pembelajaran diferensiasi, bahwa anak-anak yang memiliki perbedaan kemampuan tersebut, akan diberikan kesempatan untuk belajar, tidak dipisahkan oleh karena level kemampuannya tetapi berfokus pada makna belajar itu sendiri dan juga kekuatan dari setiap siswa miliki. Model pembelajaran dalam mengajar, terkadang guru akan mengajar pada “whole class” atau kelompok besar, terkadang kelompok kecil dan terkadang secara individual dalam satu kelas. Variasi yang dilakukan ini sangat penting dalam meningkatkan pemahaman murid dan ketrampilan juga membangun rasa kebersamaan dalam kelompok.

2. Pembelajaran diferensiasi bukanlah pembelajaran yang semrawut atau kacau

Banyak guru yang mengalami ketakutan akan terulangnya kejadian di awal tahun ajaran baru yang kurang bisa mengatasi perilaku murid- muridnya di kelas. Hal ini seharusnya tidak terjadi apabila guru melakukan managemen kelas yang baik. Seorang guru yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, akan ahli dalam memeimpin kelas dan dengan cepat menanggulangi masalah ini. Dibandingkan dengan guru yang menggunakan pendekatan satu center (guru menjadi pusat pembelajaran), pada guru yang menerapkan pembelajaran diferensiasi akan mengatur dan memonitor kelas dengan menggunakan beberapa aktivitas bersama-sama. Guru juga akan membantu anak dalam mengembangkan peraturan untuk mengontrol perilaku, memberi dan memonitor secara langsung aktivitas serta memberikan tahapan- tahapan pembelajaran yang berhubungan dengan pengalaman belajar anak. Pembelajaran diferensiasi di kelas akan memberikan keefektifitasan tujuan pembelajaran murid dan bukan kelas tanpa perencanaan atau ketidakdisiplinan.

3. Pembelajaran diferensiasi adalah proaktif dan berdasar pada asesmen

Pada kelas yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, kita harus berpikir bahwa murid-murid memiliki kebutuhan belajar yang beragam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Guru harus proaktif menemukan dan melakukan perencanaan dengan berbagai cara untuk bisa mengekspresikan bagaimana murid-muridnya bisa belajar. Guru akan bisa merencanakan cara bagaimana murid-murid belajar dengan melakukan asesmen terlebih dahulu berdasarkan tingkat kesiapan murid, ketertarikan dan gaya belajar dari setiap murid-muridnya tersebut. Murid-murid di dalam kelas akan mempunyai karakteristik yang berbeda, yang mungkin akan mengindikasikan dalam kebutuhan modifikasi kurikulum dan pembelajaran. Adapun penjelasan mengenai ketiga hal yang akan dilakukan asesmen adalah:

a)  Readiness (Kesiapan)

Murid yang memiliki kesiapan untuk belajar suatu hal yang mana sudah mempunyai pengetahuan mengenai apa yang akan dipelajari, memahaminya dan memiliki keterampilan yang bagus, dipastikan akan sukses dan bisa mencapai tugas yang diberikan. Lain halnya bagi murid yang belum memahami apa yang akan mereka pelajari, maka mereka akan menjadi murid yang sulit dalam mempelajari tema/topik pembelajaran dan mungkin akan frustasi karena tidak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Pemahaman dalam belajar akan lebih bagus apabila tingkat kesulitan yang diberikan sedikit lebih tinggi dari level pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan sebelumnya. Hal tersebut akan membantu dalam menghubungkan pengetahuan yang baru dan tingkat pengetahuan baru. Kesiapan murid akan erat hubungannya dengan tingkat perkembangan pemahaman dan prestasi murid di kelas (achievement).

b)  Ketertarikan (interest)

Ketertarikan merupakan faktor terbesar dari dalam diri seseorang dalam memotivasi untuk belajar. Guru yang bijak akan menghubungkan konten yang dipelajari dengan ketertarikan (interest) dari murid-muridnya. Hal ini akan mempertahankan level perhatian siswa dalam belajar. Ketertarikan dari murid ini berhubungan dengan semua hal yang murid suka atau tidak suka dan mengenai hobinya.

c)  Learning profile (Profil belajar)

Gaya belajar merupakan cara/jalan bagaimana murid tersebut bisa belajar dengan baik. Beberapa murid mungkin akan lebih bagus belajar dengan cara diskusi dengan teman sebayanya, tetapi ada juga sebagian murid yang lebih bagus belajar sendiri. Ada murid yang belajar dari beberapa bagian dari tema tetapi adapula yang menganalisanya. Guru harus jeli dalam memahami gaya belajar setiap muridnya. Adapun dalam profile belajar anak akan dihubungkan pula dengan faktor sosial/emosi yaitu mengenai bahasa, budaya, kesehatan, kenyataan dalam keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu learning profile juga berhubungan dengan gaya belajar (learning style) seseorang. Ada beberapa yang memiliki gaya belajar dengan visual (melihat gambar, membaca), ada yang auditory (mendengarkan ceramah atau diskusi), ada juga yang memiliki gaya belajar dengan bergerak (kinestetik). Multiple intelegances juga berhubungan dengan learning profile ini, yang sesuai dengan yang diungkapkan oleh Howard Gardner. Menurut Howard Gardner ada 8 intelegensi yaitu logic- matematis, linguistik, musikal, spasial, bodily kinesthetic, interpersonal, intrapersonal dan naturalis. Teori ini akan membantu dalam mengadaptasikan pengajaran kepada siswa, selain itu guru juga harus mengetahui learning profile atau gaya belajar dari masing-masing siswanya. (Arends, 2008:123)

Setelah dilakukan asesmen tersebut kemudian baru membuat design atau perencanaan pengalaman belajar berdasarkan dari pemahaman murid, memperhitungkan produk/hasil belajar yang akan dibuat atau membuat asesmen akhir sebagai  final untuk mengetahui kesuksesan murid dalam belajar.

4. Pembelajaran diferensiasi menggunakan berbagai pendekatan (multiple approach) dalam konten, proses dan produk

Dalam kelas diferensiasi, guru akan memperhatikan 3 elemen penting dalam pembelajaran diferensiasi di kelas yaitu (1) Content (input) yaitu mengenai apa yang murid pelajari, (2) Proses yaitu bagaimana murid akan mendapatkan informasi dan membuat ide mengenai hal yang dipelajarinya, (3) product (output), bagaimana murid akan mendemonstrasikan apa yang sudah mereka pelajari. Ketiga elemen tersebut di atas akan dilakukan modifikasi dan adaptasi berdasarkan asesmen yang dilakukan sesuai dengan tingkat kesiapan murid, ketertarikan (interes) dan learning profile. Terdapat 3 elemen penting yang akan dilakukan diferensiasi, antara lain sebagai berikut.

a. Content

Konten berhubungan dengan apa yang akan murid-muird ketahui, pahami dan yang akan dipelajari. Dalam hal ini guru akan  memodifikasi bagaimana setiap murid akan mempelajari suatu topik pembelajaran. Misalnya, guru akan mengajarkan matematikan yang mana tujuan objektifnya adalah murid-murid bisa membaca waktu. Dari murid-muridnya di kelas, mungkin guru akan menemukan anak yang belum mengerti mengenai konsep angka, ada juga yang belum mengerti mengenai konsep waktu dan mungkin beberapa murid-murid di kelasnya sudah memahami dan bisa membaca waktu dengan baik. Bagi anak- anak yang tingkat kesiapannya sudah siap dan mengerti akan konten yang akan dipelajarinya, hal ini tidak menjadikan masalah bagi murid untuk belajar hal yang sama sesuai dengan konten yang sudah ditentukan. Bagi tingkat kesiapannya belum memahami mengenai konten tersebut, guru perlu melakukan modifikasi dan adaptasi berdasarkan tingkat kesiapan murid tersebut.

b.  Process

Proses merupakan cara murid mendapatkan informasi atau bagaimana ia belajar. Dalam arti lain adalah aktivitas murid dalam mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan berdasarkan konten yang akan dipelajari. Aktivitas akan dikatakan efektif apabila berdasarkan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan murid. Murid akan bisa mengerjakan dengan sendirinya dan berguna bagi diri mereka sendiri.

c. Product

Produk merupakan bukti apa yang sudah mereka pelajari dan pahami. Murid-murid akan mendemostrasikan atau mengaplikasikan mengenai apa yang sudah mereka pahami. Produk akan merubah murid dari “consumers of knowledge to producer with knowledge”.

Kesimpulan

Diharapkan dengan menerapkan model tersebut maka perbedaan dan keberagaman setiap individu di kelas dilihat dari tingkat kesiapan, ketertarikan dan gaya belajar akan bisa terakomodasi sehingga berdampak adanya peningkatan terhadap pemahamaan, motivasi dalam belajar, dan juga interaksi antarpeserta didik di kelas


Share:

Kelas Yang Didambakan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal), diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Budaya juga diartikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman dibedakan menjadi tiga yaitu : gagasan, aktivitas, dan artefak.

Budaya yang sudah mengakar, terkadang sulit merubahnya. Hal itu membuat adrenalin Saya tertantang. Tidak ada kata menyerah dalam kamus Saya untuk berbuat dan menciptakan perubahan tersebut. Pahami terlebih dahulu budaya yang ada di sekolah. Bagaimana budaya positif yang ada di sekolah membentuk karakter murid, guru, dan bahkan visi dan misi dalam sekolah itu sendiri. Banyak dari kita yang mungkin menemukan bahwa budaya positif di sekolah seringkali masih diabaikan, padahal banyak diantara kita juga memahami bahwa dengan memelihara budaya sekolah yang positif, maka tidak hanya visi dan misi sekolah saja yang bisa terwujud, melainkan juga tujuan pendidikan di Indonesia.

Budaya sekolah yang positif menjadi tempat bagi para guru, murid, serta setiap lapisan komponen sekolah untuk merasakan atmosfer positif yang membangun dan memperkuat karakter. Ketika sekolah sudah memiliki budaya positif dengan menerapkan disiplin positif, guru akan bersemangat untuk bekerja, karena mereka melihat gambaran yang lebih besar dan murid berada dalam posisi yang lebih baik (secara mental dan emosional) untuk belajar. Untuk menciptakan budaya  positif di sekolah, maka dimulai dari kelas. Mengapa mesti budaya tersebut berawal dari kelas? Jawabnya, karena dari kelas-kelas yang cakupannya kecil lah tercipta kesepakatan antara guru dan murid. Kesepakatan kelas tersebut dibuat berdasarkan keinginan dari murid, yang dimana menerapkan konsep merdeka belajar. Dari hal yang kecil, dari kesepakatan kelas tersebut akan mengimbas ke cakupan yang besar yaitu terciptanya budaya sekolah yang positif.


gambar hanya ilustrasi


Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap pengajar. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Baca juga   : Pemimpin Pembelajaran Ideal 

Nah, itu merupakan gambaran penjelasan tentang keterkaitan antara budaya positif yang ada di sekolah dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang akan Saya buat bersama murid-murid yaitu kesepakatan kelas yang akan kami terapkan ketika awal masuk sekolah setelah libur panjang. Dimulai dari mengenalkan apa itu budaya positif  dan juga keterkaitan dengan kesepakatan kelas. Lalu menanyakan kepada murid-murid, apa masalah yang dihadapinya saat berada di kelas dan kelas seperti apa yang membuat dia nyaman?. Dari pertanyaan tersebut, Saya menggali ide dari seluruh murid untuk menciptakan kelas impian mereka dan mengambil kesimpulan lalu mengubah ide tersebut menjadi kesapakatan kelas. Contohnya : Kami guru dan murid mengawali dan mengakhiri kegiatan belajar mengajar dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Setelah kesepakatan kelas disepakati dan sudah mengakomodir semua keinginan siswa, maka jangan lupa dibubuhi tanda tangan di bawah kesepakatan tersebut.  

Lihat kesepakatan kelas kembali, jika dalam perjalanan penerapannya masih ada murid yang melanggar, maka evaluasi itu penting dilakukan. Oiya, jangan beri hukuman jika murid tersebut melakukan pelanggaran, karena hukuman akan menyakiti mereka dan melukai mereka secara batin. Ganti hukuman dengan konsekuensi dan perlakukan mereka secara manusiawi. Tujuan pendidikan yang berlandaskan pada karakter sangatlah penting untuk membangun fondasi dalam pembelajaran seumur hidup dan juga untuk mengembangkan nilai-nilai personal dalam berkontribusi di kehidupan global.


Share:

Kuliah Umum Pembelajaran Berbasis TIK (Pembatik) Level 4

Kuliah Umum Pembelajaran Berbasis TIK (Pembatik) Level 4
BERBAGI DAN BERKOLABORASI BELAJAR BERSAMA RUMAH BELAJAR

WEBINAR RUMAH BELAJAR

WEBINAR RUMAH BELAJAR
BERGERAK MAJU BERSAMA RUMAH BELAJAR 04 NOV 2021 PKL 14.00-16.00

WEBINAR PAKKEMA RUMBEL

WEBINAR PAKKEMA RUMBEL
JANGAN LUPA SAHABAT 03 NOVEMBER 2021 PUKUL 13.30-15.30

Logo Pembatik

Logo Pembatik
Level 4 Pasti Bisa ditaklukkan

KELOMPOK 4 SRB TAHUN 2021

KELOMPOK 4 SRB TAHUN 2021
PAKKEMA RUMBEL (Pembelajaran Aktif Kreatif Menyenangkan Bersama Rumah Belajar)

SIR FAUJI-Sahabat Rumah Belajar

SIR FAUJI-Sahabat Rumah Belajar
Download segera Aolikasi Rumah Belajar di play store dan daftar dengan akun belajar.id

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Muhammad Fauji
Saya adalah sosok pribadi yang ramah, terbuka dan suka sekali bersosialisasi. Menurut Saya ketika kita bersosialisasi dan bertemu banyak orang serta banyak bertanya maka kita akan mendapatkan hal-hal yang baru, pengalaman baru, ilmu yang baru serta memperbanyak teman. Dengan karakter Saya yang seperti itu Saya semakin luas dalam berfikir dan melihat sesuatu. Bagi Saya tidak ada kata rugi jika kita perbanyak pertemanan dan persaudaraan